Enam koma Lima

Tahun 2008, sekitar bulan Juli alhamdulillah saya lulus beasiswa program S-2 untuk guru yang akan belajar di  SEAMEO-RECSAM Pulau Penang, Malaysia selama 4 bulan dan selanjutnya 6 bulan lagi di Deakin University Australia. Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan guru dan calon yang bisa mengajar dalam bahasa Inggris untuk mata pelajaran MIPA dan Matematika sekaligus peningkatan kualitas metode mengajarnya.

Kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Malaysia akhirnya akan terwujud. Sekitar bulan Februari 2009 pengumuman untuk berangkat akhirnya diumumkan di koran Serambi Indonesia. Saya dan lebih dari 30 orang calon guru dan guru berangkat ke Pulau Penang Malaysia untuk mengikuti program ini di kampus Southeast Asian Ministers of Education Organisation- Regional Centre for Education in Science and Mathematics) SEAMEO-RECSAM.

Lembaga ini didirikan tahun 1967 atas inisiatif  dari kementerian pendidikan dalam regional Asia Tenggara. Saat ini negara yang menjadi anggotanya adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste dan Vietnam.

Sekitar dua bulan berjalan program ini, terasa ada yang tidak beres yang dirasakan oleh peserta. Keluhan lebih dirasakan oleh guru-guru yang kurang memahami materi yang disampaikan oleh instruktur/dosen. Karena penyampaian materinya disampaikan dalam bahasa Inggris. Kemudian beberapa kawan berinisiatif untuk membuat pertemuan untuk membahas masalah ini.

Akhirnya tanggal 26 Maret 2009, pukul 11 siang, bertempat di ruangan Thailand, kampus SEAMEO-RECSAM. Semua peserta telah berkumpul diruangan tersebut. Ada banyak perasaan yang saya tangkap dari kawan-kawan baik itu calon guru dan guru. Ada yang sedih, bahkan ada yang gembira.

Dalam pertemuan dihadiri oleh Direktur RECSAM beserta staf dan Bapak Qismullah mewakili Komisi Beasiswa Aceh (KBA – sekarang menjadi LPSDM). Ada banyak pernyataan dan permasalahan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Dan Pak Qismulah menjawabnya dengan agak berhati-hati dan menerangkan berulang-ulang kali.

Ada beberapa point penting yang saya simpulkan dari pertemuan tersebut:
1. Program akan dipercepat sampai akhir bulan April ini (hanya 3 bulan, dari yang direncanakan 6 bulan). Dengan pertimbangan bahwa kemampuan rata-rata  bahasa Inggris para peserta saat ini masih sangat kurang. Dan setelah dievaluasi, ternyata tidak mungkin mendapatkan nilai IELTS 6.5 dalam waktu yang singkat. Kemudian agar program ini kedepan lebih efektif dan tepat sasaran.

2. Program beasiswa ke Deakin University diberikan bagi yang mampu mencapai nilai IELTS 6.5 dan mempunyai pengalaman mengajar selama 3 tahun.

3. Bagi guru setelah selesai mengikuti program di SEAMEO-RECSAM, akan ditempatkan di Pusat Peningkatan Mutu Guru (PPMG) masing-masing daerah.

4. Bagi calon Guru akan diikutkan lagi program pemantapan bahasa Inggris di Banda Aceh.

5. Hal yang paling ditekankan Pak Qismullah adalah untuk mendapatkan beasiswa Pemda Aceh (pada saat itu) harus mendapat nilai IELTS sebanyak 6.5

6. Untuk sementara pengganti dari program S-2 ini adalah pelatihan metode mengajar. Dan diakhir program kami akan diberikan sertifikat pelatihan yang dikeluarkan oleh SEAMEO-RECSAM.

Akhirnya, alhamdulillah kami berhasil menyelesaikan program pengganti ini dan kembali ke Banda Aceh dengan ilmu dan pengalaman.

*Tulisan ini ditulis pertama kali pada 4 April 2009 .

This entry was posted in catatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s