Optimis adalah Fitrahnya Manusia

Setiap manusia secara fitrah memiliki sifat optimisme (ar-raja’). Sifat optimisme adalah perasaan tenang dalam dirinya menunggu sesuatu yang disukainya dan berharap perasaan yang bersifat menetap, mapan dan lestari, bukan keadaan yang cepat lenyap.

Optimis merupakan perasaan berdasarkan suatu alasan yang dapat diraih melalui penyebabnya, jika tidak ada penyebabnya untuk meraih maka dikatakan omong kosong. Firman Allah QS An-Nisaa’ ayat 123.

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”

Sikap optimis dapat membantu seseorang untuk menempuh jalan yang benar dan istiqamah dalam melaksanakan agama Islam. Optimis lawannya adalah putus asa, putus asa karena luput dari rahmatnya Allah dan tidak ada kemauan hati untuk mencari solusinya. Oleh karenanya sikap optimis harus diwujudkan dalam rangka meraih suatu cita-cita dalam kehidupan. Firman Allah QS Yusuf ayat 87.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”

Ayat ini memberikan gambaran orang yang istiqamah tidak pantang menyerah kecuali orang-orang kafir dan tersesat. Allah Swt juga berfirman dalam QS Al-Hijr ayat 56.

“Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.”

Orang-orang mukmin akan selalu sabar dan tabah menghadapi segala kesulitan yang dialaminya. Ia dengan rela penuh ikhlas menerima qada dan qadar dengan keyakinan bahwa suatu saat nanti Allah akan menghilangkan semua itu. Firman Allah QS Al-Hajj ayat 38.

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.”

Akhirnya sikap optimis adalah obat penawar bagi orang yang telah dikuaasai rasa putus asa, akan mudah meninggalkan ibadah dan berpendapat ibadah tidak ada faedahnya. Dan orang yang dicekam rasa takut/khawatir sehingga merugikan dirinya dan juga keluarganya.

This entry was posted in catatan, dakwah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s